Sekali Lagi: Menulislah dan Bagi Kekuatan Itu

Buku Mba Asma Nadia uda selese kubaca lebih dari sebulan lalu,tapi pesan yang selalu mengiang dan kurasa sangat punya ruh alias berjiwa. Bahwa apapun yang kita tulis bukanlah sia-sia karena bisa jadi ia menjadi penunjuk jalan bagi mereka yang berada di simpang jalan yang sama. Harus berbuat apa? Bagaimana yang terbaik? Dll...Mba Asma sangat betul, ayo kita tulis apa yang kita rasakan, bisa jadi itu sangat berguna buat yang lain. Ugh, Mba Asma, makasih ya uda kasi motivasi itu...saking aku merasakan ruh dari kalimat itu di buku Catatan Hati Seorang Istri, aku jadi mau nulis banyak hal, banyak sekali...sampai-sampai akubingung harus memulai darimana. Yang jelas, jazakillah khairan katsiraa buat Mba Asma.

Selengkapnya...

"Bukan Mamah yang nolong kamu di akhirat, Nak..."

Siang, 2 pm.
Sambil smsan ma pendengar yang lagi curhat via HP studio, baca-baca blog temen-temen blogger yang dah lama gak dikunjungi, ngontrol studio yang lagi kehilangan DJ Riza yang lagi muncrut (istilah Admin Ery...hehe), saya tidak menulikan telinga dari TAUSIYAH SIANG TETEH NINIH dari radio di bawah meja mixer. Subhanallah...keren banget isinya.

Saya jadi terngiang-ngiang dengan pernyataan beberapa orang yang dipanggil ustadz, mereka menyitir dalil agama bahwa muslimah sebaiknya di rumah saja. Tidak usah keluar rumah. Karena membangun keluarga adalah membangun peradaban. Oleh karenanya asuh keluarga dengan baik, maka itupun sudah merupakan upaya menyelamatkan peradaban. Tidaklah salah.

Tapi, apakah harus sekaku itu? Bagaimana jika muslimah (juga) ingin berdakwah? Bukankah target dakwah itu tidak hanya cakupan keluarga namun juga masyarakat luas? Apalagi masalah umat Islam sekarang sangat kompleks. Ditambah animo dan antusiasme penduduk bumi akan Islam semakin meningkat. Kehadiran pendakwah tidak hanya laki-laki saya rasa sangat dibutuhkan. Karena pendekatannya pasti berbeda.

Kehadiran Mamah Dedeh di bursa da'i da'iyah nusantara sungguh membanggakan. Gaya beliau yang ceplas ceplos dalam mengomentari problema penanya menjadi khas tersendiri. Walaupun saya memeberi beberapa catatan jika mendengar jawaban Mamah atas curhat umat. Soalnya beberapa kali saya menangkap Mamah menjawab dengan mengedepankan logika, padahal dalam Islam, dalil dari Qur'an dan Sunnah adalah hal yang harus disampaikan terlebih dahulu. (Maaf nih, Mamah, gak papa ya. Saling menasihati itu kan juga ada dalam Qur'an Surah Al-Ashr ayat 3. Maafkan kalau Ananda lancang.)

Bagaimana degan Teh Ninih? Wanita berdarah Sunda istri pertama dari seorang da'i terkenal, Aa Gym. Itu dia yang sebenarnya ingin saya bicarakan. Sungguh saya mengagumi sosok Teteh. Sekalipun saya belum pernah bertemu dengannya. Uraiannya via MQ pagi tiap Rabu yang direlay Radio Mujahidin dan juga rekamannya yang diputar ulang di Tausiyah Siang pukul 14.oo WIB. Subhanallah, bukankah kekaguman saya itu hadir karena Teteh tidak hanya mengurusi keluarganya saja di bawah rumahnya surganya?

Oleh karenanya, saya dengan pemahaman Islam yang cetek ini, juga ingin seperti Teteh juga. Saya juga ingin berbagi atas apa yang saya tahu tentang Islam. Bahwa keindahan Islam sungguh memukau sehingga saya ingin mengumumkan pada dunia. Saya juga ingin kita berbincang tentang problematika kehidupan dan solusi-solusi Islami. Bukankah itu tidak dapat dilakukan jika saya hanya di rumah saja? Benar, dunia ada di tangan kita. Internet bisa menghubungkan antar penduduk dunia. Tapi, Teteh Ninih dan Mamah Dedeh yang menjadi tempat curhat para ibu-ibu dan muslimah bahkan bapak-bapak tidaklah hadir dari dunia maya. Karenanya saya rasa sambutan masyarakat jauh lebih terasa karena mereka juga hadir di dunia nyata.

Kembali ke topik yang ingin saya tekankan pada tulisan sore ini, pada dasarnya saya ingin berbagi tentang kekuatan yang saya rasakan saat mendengar tausiyah Teh Ninih siang tadi. "Bukan Mamah yang nolong kamu di akhirat, Nak..." Itu kalimat yang seperti nyantol abis di otak saya.

Wahai saudariku, baik anda muslimah yang telah atau belum menikah. Kita semua tentu menginginkan lahirnya keturunan dari rahim kita sendiri. Segala upaya akan kita lakukan untuk mendapatkannya. Namun setelah Allah mengamanahkan seorang atau beberapa ananda, maka bagaimana kita merawat mereka?

Dalam tausiyah siang Teh Ninih tadi, saya masih ingat kalimat-kalimat Teteh yang PASTI keluar dari setiap lisan ibunda yang baik. Bahwa para ibunda akan mempersiapkan menu terbaik bagi buah hati agar mereka mau sarapan. Ibunda akan gelisah jika ananda tidak sarapan sebelum sekolah. Tapi apakah ibunda juga sama risaunya jika buah hati tidak sholat subuh?

Ibunda akan memutar otak agar buah hati punya selera sehingga mau makan siang dan makan malam. Sama halnya dengan sarapan, ibunda akan tak nyaman hati jika tidak ada makanan di meja makan yang tersentuh. Namun apakah sama tak nyamannya jika ananda tidak sholat lima waktu?

Dialog. Ibunda dan ananda perlu dialog. Isinya? Ya judul di atas itu. "Bukan Mamah yang nolong kamu di akhirat, Nak..."
Bahwa ananda harus tahu bahwa ibunda dan ayahanda mencintai mereka. Oleh karenanya, sholat yang ayah bunda perintahkan untuk dilaksanakan juga untuk kepentingan ananda sendiri. "Kalau pun Mamah teriak-teriak sama Allah, minta tolong supaya kamu diampuni, itu nggak akan berguna, Nak. Kamu yang akan nolong diri kamu sendiri di akhirat nanti." Begitu Teh Ninih mencontohkan dalam tausiyahnya.

Ya Allah, betapa kita sangat mencintai permata hati. Akan tetapi tepatkah cinta itu kita ekpresikan? Bukankah cinta hakiki selamanya bermuara padaNya? Namun mengapa masih banyak orang tua yang rela menjerumuskan anak mereka ke neraka dengan cara membiarkan ananda tidak sholat lima waktu? Membiarkan ananda mencintai perkara yang jauh dariNya, mencintai lawan jenis di luar pernikahan dan berdua-duaan yang menyebabkan Allah cemburu? Oh, betapa mengajak ananda menuju surgaNya itu butuh kekuatan. Karena kita pun para orang tua ini, sesungguhnya tidak juga punya kekuatan untuk mengajak diri kita sendiri melangkah ke dalam surga.

Selengkapnya...

no matter what they tell us

Entah apa yang mau saya tulis. Yang jelas saya ingin mendhawamkan menulis sebagai bagian dari tradisi saya setiap hari. Ya, setiap hari. Apapun itu,saya akan menulis, seperti sore ini. Saya hanya memencet saja tuts tuts keyboard dan membiarkan tangan ini mencatat apa yang sedang melintas di kepala.

Baiklah, sekalipun tidak bertema khusus, saya ingin berbagi tentang lagu yang sudah beberapa kali saya putar hari ini. Yakni dari grup Boyzone yang sudah bubar sejak tahun 2000. Kabarnya ada salah satu personelnya yang mangkat sekitar 3-4 hari lalu. Dalam video berita itu saya sempat mendengar sebuah lagu sangat filosofis; Everyday I Love You.

Singkat cerita saya jadi pingin denger lagi lagu tersebut. Pas nyari tuh lagu ketemu pula lagu Boyzone lainnya. Ada No Matter What dan I Love The Way You Love Me yang juga saya download. Kayanya karena saya lagi jatuh cinta sama Si Abang makanya lagu-lagu yang saya dengar juga bernuansakan flamboyan aduhai (nah, gaya tulisan begini terpengaruh Andrea Hirata, ;-)

Pas pula tadi pagi saya stop bacaan di bagian Seni Menikmati Seni, entah halaman berapa di tetralogi terakhir Laskar Pelangi, Maryamah Karpov. Pandai Bang Zaitun memilih lagu untuk diputar di GMCnya. Kurang lebih begitu ceritanya. Yang disebut Andrea sebagai tokoh yang tahu seni menikmati seni itu adalah Bang Zaitun.
Nyambung toh kalau tulisan saya hari ini berkisar seni ala Boyzone.

Kembali pada lagu yang saya download. Karena penasaran dengan liriknya yang cantik maka saya pun cari liriknya. Tak lupa save di notepad. Subhanallah lirik dalam 3 lagu itu ternyata memang indah dan bermakna. Tapi saya paling suka dengan lirik No Matter What. Saya baru tahu kalau lagu itu ternyata lagu rohani. Lagu ketuhanan karena ada dialog dengan Tuhan disana.

Berikut secuplik liriknya:


I can't deny what I believe
I can't be what I'm not
I know I love forever
I know no matter what

If only tears were laughter
If only night was day
If only prayers were answered
Then we would hear god say

No matter what they tell you
No matter what they do
No matter what they teach you
What you believe is true

And I will keep you safe and strong
And sheltered from the storm


Tidak salah kan kalau saya katakan liriknya indah? Nyatanya memang begitu. Tapi sekalipun tidak tahu lirik secara keseluruhan, baca judul lagunya saja seperti sudah dapat kekuatan: No Matter What. Orang lain bisa bicara apa saja, entah itu benar atau salah tentang kita. Tapi jika kita bisa berkata pada diri kita seperti judul lagu Ronan Keating cs itu, No Matter What, maka kita bisa tetap tegar. Tentu saja jika yang kita jalani adalah kehidupan yang benar. karena biasanya cercaan dan hinaan bagi orang yang hidupnya lurus itu jauh lebih banyak daripada bagi orang yang hidupnya semrawut tak jelas arah.

Ohya, kalau menggunakan bahasa ABG, no matter what itu bisa jadi artinya EGP alias Emang Gue Pikirin. Bener gak?

Selengkapnya...

Menulislah dan Bagi Kekuatan Itu

Seperti ada kekuatan yang mendorong saya untuk menulis. Saya tidak tahu darimana harus memulai tulisan ini. Mungkin pertama kalinya kepada Meichan, yang sudah begitu baiknya meminjamkan Catatan Hati Bunda-nya Asma Nadia tepatnya 12 hari yang lalu, 6 Oktober 2009. Karena 2 hari setelah itu, habis ifthar bareng Mery, my younger sista, di Pizza Hut, kulangkahkan kaki mantap ke Gramedia untuk membeli buku yang sama.

Waktu itu Selasa, 6 Oktober 2009, Meichan alias Mimi Chatz Carpenter mau siaran di studio. Karena belum mulai, saya tanyakan perihal program Samudra Hidayah yang perlu konsep baru. "Kak, kayanya Mimi udah dapat bukunya. Catatan Hati Bunda. Ambil ja di plastik di Ruang Penyiar," jawab muslimah mungil nan manis itu.

Keluar studio langsung ke Ruang Penyiar dan segera saya dapatka buku itu. Tidak sulit untuk kemudian asyik masyuk dengan buku garapan Mbak Asma pentolan Forum Lingkar Pena itu. Kisahnya sederhana, bahasanya mengalir karena bercerita tentang keluarga kecilnya, dan mengalirlah butir keharuan dari pelupuk mata saya. Ah, betapa cengengnya. Sudah lama tidak menangis seperti itu saat membaca buku. Lalu saya menikmati buku itu. Hingga saya pun tidak menyesal untuk merogoh sekitar 50 ribu untuk buku tersebut.

Saya mau ngucapin terimakasih jazakillah buat Ukhtiy Meichan. Karena dia sudah pinjami saya buku itu, lantas saya jadi beli juga (soalnya ga puas kalo cuma minjem ;-) dan saya sudah khatam beberapa hari lalu. Geloranya saya rasakan, gelora dan hasrat untuk menulis. Sebelum mengkhatamkan buku Catatan Hati Bunda sebenarnya saya sudah punya keinginan yang kuat untuk menulis. Kenapa? Entahlah. Mungkin kareba saat itu saya sedang membaca Catatan Hati Seorang Istri-nya Asma Nadia juga.

Sungguh, buku itu tidak bisa dibilang ringan. Sekalipun bentuk tulisannya seperti cerita yang mengalir tetapi kisah-kisah para perempuan di dalamnya membuat saya harus menjadi hero buat diri saya sendiri. Kisah tidak indah para istri, yang ditinggal pergi sang suami entah karena panggilanNya ataukah panggilan wanita lain.
Yang jelas buku itu membuat saya menangis (lagi), salah satunya karena, saya seperti tersadarkan bahwa keindahan episode pernikahan bersama suami sah-sah saja jika dirampas begitu saja oleh skenario Allah Yang Maha Mengatur.

Jika Anda membaca satu kalimat yang tertera dalam pengantar Mbak Asma di Catatan Hati Seorang Istri maka Anda akan dapati bahwa beliau juga mengajak para pembacanya terutama perempuan untuk menulis juga. Bukan hanya membaca bukunya. Karena bisa jadi tulisan itu dapat menuntun jalan bagi perempuan lain yang sedang tersesat di masalah yang serupa.

Oleh karenanya, di sinilah saya kini. Saya sudah bosan melihat postingan terakhir di blog ini adalah cerita bulan-bulan kemarin. Saya ingin posting baru dan baru. Tentang hidup saya sekarang. Tentang perasaan saya sekarang. Tentang apa yang saya pikirkan sekarang. Karena saya tidak pernah tahu, dari kalimat saya yang mana perempuan atau Anda yang membaca blog ini akan mendapatkan kekuatan.

Ya, kekuatan. Bukankah kekuatan untuk menghadapi hidup ini yang sangat kita butuhkan? Kita tahu adalah sebuah niscaya kita akan hadapi masalah. Namun bagaimana mempersiapkannya? Bagaimana jika takdir kelabu itu dalam sekejap memeluk kita? Sanggupkah? Karenanya, mari menulis dan mari kita bagi kekuatan itu. Hatta, kekuatan itu sangat ringkih. Mari berbagi, saudaraku.




Selengkapnya...

Setelah Iman, Harta Berharga Itu Adalah Dia



Sore itu, Ahad, setelah seharian di rumah saja, berdua.
Melewati waktu pagi hingga petang dengan berdua dan dia, yang kucinta, bertanya dengan tersenyum lebar:
"Pacaran yok. Kite jalan. Dinda mau beli ape? Beli baju?"
Tidak perlu waktu lama bagiku untuk menjawab,
"Dinda nda mau kemane-mane. Dinda pengen deket Abang ja. Karena setelah iman, abang harta berharga buat dinda."



Rasanya baru kemarin kami menikah. Padahal 10 Mei 2009 itu sudah lebih dari 5 bulan yang lalu. Tapi, Subhanallah, rasanya cinta di hati ini semakin membengkak saja. Janji Allah memang tidak pernah salah. Siapapun yang saling mencintai karenaNya maka Ia akan tambahkan cinta itu, berlipat-lipat ganda tak terhitung dan terjangkau logika.

Pernikahan 5 bulan lalu selalu saya syukuri, Insya Allah. Sebab saat mengambil keputusan untuk mengatakan saya siap dilamar dia, saya telah memintaNya untuk memberikan jawaban apakah lelaki yang sekarang menjadi suami saya itu adalah lelaki terbaik ataukah tidak. Ternyata ia memang terbaik buat saya.Alhamdulillah.

Jarak jauh secara rutin memisahkan kami karena ia bekerja di luar kota, tepatnya kota Pinoh, di Kabupaten Melawi, sebuah kabupaten baru hasil pemekaran dari Kabupaten Sintang. Jujur, di prosesi ta'aruf saya sengaja untuk tidak lupa mengatakan bahwa saya adalah seorang perempuan yang tidak bisa jauh dari yang saya cintai. Saat itu ia menjawab bahwa jadwal kerjanya nun 10-12 jam perjalanan dari kota Pontianak itu bisa diatur sesama tim dalam perusahaan. Nyatanya, sekalipun kedatangannya bulan ini jauh lebih cepat dari jadwal, saya selalu dan selalu tidak dapat menahan luruhnya air mata malam terakhir kami bersama. Sudah kebayang rindunya menggigit sangat.

Mengapa Allah tidak memberi pekerjaan buat Si Abang di Pontianak saja? Mengapa tidak setiap hari saya bisa melihat dan mengabdi? Mengapa harus kami lalui pertemuan setiap hari hanya dengan SMS, chat, FB, atau telpon dengan paket obrol2 mentari? Dan mengapa mengapa lainnya.

Masih ingat saya akan surat yang saya tulis di desktop laptop Si Abang. Cuplikannya adalah bahwa Allah sedang menitipkan pesan atas jarak jauh yang memisahkan kami. Entah apa pesan itu. Yang jelas saya senantiasa meminta padaNya agar selalu mengilhamkan husnudzdzon kepadaNya yang sudah mengatur semua ini.

Selengkapnya...

Aku Ingin Hidup Dalam Detik Itu

Aku tak tahu mengapa
detik yang baru saja berlalu seperti
detik kematian seorang manusia
Manakala kubuka kembali lembaran
detik itu
detik tanpa nafas
walau helaan masih terasa di telunjuk yang
dibaringkan


Detik yang berlalu
tapi aku, kau dan kita semua telah mati
karena ketiadaan manfaat detik itu
Detik itu lonceng matinya hakikat kita
sebagai manusia berakal.

Selengkapnya...

Adalah Waktu


Adalah waktu
Adalah waktu yang memiliki bibir
Adalah waktu yang punya hak bicara
Adalah waktu yang kan ungkap segala
Adalah waktu yang membujuk 'tuk sabar
Adalah waktu yang berbisik "husnudzon padaNya"

Adalah waktu
Adalah waktu yang tak ku tahu kapan datangnya
Adalah waktu...

Ya...adalah waktu

Selengkapnya...

Babak Baru Itu Telah Dimulai

Adalah sebuah pertanda dariNya tentang masa depan kami berdua
Namun ia maya hingga tak dapat disentuh dengan logika
Barulah kutemukan jawabannya kemarin: 13 Mei 2009
Hari keempat setelah ijab kabul itu diucap
Kamar Yakud di Villa Bukit Emas Singkawang menjadi saksinya
Bersama alam hijau, dan cahaya mentari pagi jam tujuh
Juga nasgor pataya dan secangkir teh hangat
Ditemani Bukan Cinta Biasa dari N70 juga K350i menembang :
Tak Bisa Pindah Ke Lain Hati: Bulan merah jambu…luruh di kotamu…….

Saksi bisu itu bernama Pantai Pasir Panjang dan pasir dan batu
Dan ombak yang sapa kaki kami berdua
Remah roti, biskuit dan botol air yang menatap tawa lepas saling berolok
5 huruf: INDAH



Juga saksinya lampu raksasa sore yang ditelan awan abu-abu, mau hujan
Jalanan Kota Amoy di kala senja beserta aktivitasnya
17.40 WIB jam tanganku: langsung ke masjid atau pulang dulu ke hotel
Revo biru pun antarkan ke Masjid Naqsabandy, Jalan A Yani, Singkawang
Mengisi perut di tempat makan siang tadi: Nasi Etek Cabang Pontianak
Pelayannya katakan retorik: ‘Baru kawin ye, Bang?’
Lantas ia tersenyum lebar, sangat lebar…apa maksudnya?

Sengaja aku cuplik kebersamaan di pekan pertama pernikahan
Kalau kau bertanya apa aku bahagia: Amat sangat.
Kalau kau bertanya kenapa: Separuh dien telah kudapatkan.
Kehidupan kami telah berubah atas status yang berganti
Ada hak ada kewajiban yang harus ditunai
Ada kelebihan ada kekurangan yang harus dimengerti
Ada sifat baik ada sifat buruk yang harus dipahami bahwa:
DIA YANG DINIKAHI BUKANLAH MALAIKAT, SEMPURNA

Terima kasih untuk Bapak Arif Joni Prasetyo yang sampaikan
Khutbah nikah tentang Syukur dan Sabar pasca akad
Untuk segala episode hidup, bukan hanya pesan klasik buat pengantin baru
Hatta pada semua hadirin tamu undangan 10 Mei 2009, Ahad lalu itu
Syukur atas semua nikmat dan anugerah yang diberikanNya
Sabar atas apapun yang kiranya di luar keinginan

Wahai pangeran yang telah menghalalkan farajku dengan janji suci,
ajari aku untuk bersyukur dan bersabar
Karena episode hidup bernama pernikahan ini akan kita lalui hingga nanti
Hingga mati.

NB: Esensi hidupnya kita di dunia adalah untuk beribadah pada Allah, maka ini adalah nasihat untuk diri pribadi, suami tercinta dan semua yang membaca bahwa pernikahan pun harusnya mengantarkan kita untuk lebih dekat padaNya. Pernikahan adalah sarana untuk beribadah padaNya.

Selengkapnya...

Tilawah On Air: Alhamdulillah, Banyak Pendengar Yang Dapat Pencerahan...

Hari ini adalah hari yang harus saya catat dalam usia hidup saya:
Senin, 24 Rabiul Tsani 1430 H/ 20 April 2009
pukul 15.30-16.30 WIB
banyak pendengar yang gabung dan bertestimoni dapet pencerahan dalam
program Tilawah On Air
'Berinteraksi dengan Kalamullah melalui Tahsinul Quran'


Ya Allah, terima kasih
karena banyak yang tercerahkan dengan adanya program itu...
Alhamdulillah, segala puji hanya bagiMu...
Rabbi, saksikan saya sangat bahagiaaaaaa...
curhat Sabtu lalu tak hanya letupan emosi semata,
saya yakin akan lebih banyak orang lagi yang tersadarkan untuk menggunakan tajwid,
lebih banyak lagi yang sadar bahwa tilawah itu wajib dengan tajwid, dan...saya pun yakin akan lebih banyak orang yang menggunakan mushaf Utsmani, mushaf Qur'an yang sesuai dengan apa yang diwariskan oleh Rasulullah tercinta.


Subhanallah, betapa kesabaran itu memang harus ada setiap saat.
Siang tadi saya sempat pusing dan mual...mungkin karena posisi duduk yang kurang nyaman. Sambil mendengarkan 'presentasi' seorang tamu yang saya dan kami, pihak radio dakwah, sangat hormati. Beliau sampaikan apa yang menjadi curhat saya Sabtu lalu: Al-Qur'an 'palsu'.

Hohoho...ternyata begitulah salah satu jalur penyebaran Al-Qur'an tidak orisinil di Indonesia. Pertanyaan beliau sangat mengindikasikan hal tersebut:
'Adik tahu atau tidak Al-Qur'an Standar?'

Ehm...ehm...ehm... kata bapak itu, jawabannya adalah Al-Qur'an sesuai standar Menteri Agama RI. Katanya kalo diluar negeri, standarnya beda lagi sesuai negara masing-masing. Trus bapak itu cerita juga kalo sampe ada 13 versi Al-Qur'an yang ada di Indonesia...Hallloouuwwww: gitu aja koq repot, Rasulullah ninggalin satu versi aja gitu lho. Gak usah dibuat ribet dan gak perlu repot buat yang lain-lain. Tinggal dipelajari aja.

Be patient, Nana....
Yea, jadi teringat dengan perkataan Ustadz saya:
Ustadz Fajri Daeng Tsalatsa, Hafidzohullah rahimahullah
Ustadz Fakhrurrozi Naksi, Lc. rahimahullah
'Akhi, Ukhtiy, istiqomahlah dalam dakwah Qur'an...perjalanan masih sangat panjang'

Dulu saya berpikir panjang, apa maksudnya dakwah Qur'an? Kenapa perjalanan masih panjang? Ternyata...Subhanallah...ana baru dapet jawabannya baru-baru ini, Ustadz. Padahal Ustadz telah menyampaikan pada saya 2-3 tahun yang lalu...

Ya, Dakwah Qur'an masih panjang....
dan saya adalah bagian dari mujahid di barisan itu...
Semoga, insya Allah. Aamiin.

Selengkapnya...

Curhat Saya: Al-Qur'an 'Palsu' Di Sekitar Kita


Sekarang ini banyak beredar kitab suci Al-Qur'an tapi gak orisinil.
Saya saat kecil sudah dikenalkan dengannya.
Dan saya yakin anda juga demikian.
Awalnya saya juga gak begitu yakin bahwa Al-Qur'an yang digunakan hampir semua umat Islam di Indonesia adalah kitab yang tidak asli.
Saya dapat ilmunya gak lebih dari 2 tahun yang lalu, kurang lebih.
Tapi saya baru paham sekarang, ternyata benar:
ADA BANYAK BEREDAR AL-QUR'AN TIDAK ORISINIL DI SEKITAR KITA, BAHKAN KITA PUN MENGGUNAKANNYA.

Bagaimana hukumnya?

Panjang kalo dijelasin via tulisan ini.
Mungkin postingan ini hanya jadi curhat saya betapa umat Islam, yah termasuk saya sendiri, kurang mampunya berinteraksi dengan sebenar-benarnya syariat, apalagi mengamalkannya secara kontinyu.

Pernah wacana tentang Al-Qur'an 'palsu' ini disampaikan ke komunitas penggiat dakwah dan rajin belajar ilmu agama. Tapi responnya kurang baik. Malahan yang menyampaikan wacana balik diceramahi:

'Umat Islam sekarang aja yang kondisinya jauh dari Qur'an, udah syukur kalo mau deket Qur'an. Kalo sekarang yang beginian disampaikan ke mereka, aduh, jangan-jangan mereka malah bingung. Trus....'


Intinya: khawatir kalo wacana begini disebarluaskan, yang ada bakal terjadi penolakan bahkan dari umat Islam sendiri. Hummm...saya ikutan bingung jadinya.

Ada juga kalangan yang ketat banget plus selektif tentang hadits shahih, maudhu dst. Tapi jujur saya gak pernah denger, at all, kalo mereka pernah angkat masalah Al-Qur'an dari sanad yang tidak shahih seperti yang tersebar selama ini, entah sudah berapa lama. Apa saya yang ketebalan daun kuping sehingga gak pernah masalah ini dibahas.

Mungkin hal pertama yang saya cek adalah: jenis Al-Qur'an apa ya yang mereka gunakan. Kalo bukan Utsmani, humm....

Yang ada di sore ini saya makin gerah aja niy...saya gerah sama banyak muslim yang gak perhatian soal nimba ilmu, refresh ilmu yang uda dimiliki, bertanya kalo gak ngerti apalagi sama yang usah ngerasa besar kepala, ngerasa di atas angin, alias uda ngerasa pinter jadi gak perlu belajar lagi. Haloooo??? Uda pinter ya...???? Trus ajarin kita-kita dunk....=)

Saya gerah sama diri sendiri yang masih koar-koar di blog dan belum banyak berbuat untuk menyebarluaskan wacana ini. Paling sama teman-teman terdekat dan murid tahsin yang dirasa bisa diajak berdiskusi tentang ini. Bisa open mind. Gak kayak katak dalam tempurung. Ups, sowri, gak bermaksud menyinggung sapapun.

Finally, i pray:
'Ya Allah, ampuni kealpaan kami dalam mempelajari ilmu kitab suci-Mu. Dan tolong sampaikan pada Baginda Nabi Muhammad Salallahu alaihi Wasallam, seorang yang Kau jadikan perantara untuk menyampaikan Qur'an pada hamba-Mu...Baginda Rasul, mohon maaf jika sekiranya interaksi kami dengan mukjizatmu itu tidaklah sesuai seperti yang kau ajarkan pada shahabat, tidak seperti yang kau harapkan. Maafkan kami...'


Selengkapnya...

Zee Alexandria

Itu namanya,
putri dari bunga putih...

Aamiin, jika Kau berikan amanah itu.

Selengkapnya...

Chinesse and Malay Baby: cucu aPo Kita Semua (cucu PKS)


Hihihi...judul yang cukup aneh.
Ini hasil silaturahim ke rumah Ibrahim, buah hati akh Shobrun dan kak Li. Lucu dan menggemaskan. Soalnya kombinasi etnis Tionghoa dari umminya dan Melayu dari abinya.
Yang jelas, saya datang ngeliat Iib, panggilan Ibrahim karena Apo alias neneknya Iib sms cerita kalo Iib udah bisa 'merayu' Apo dengan nada tertentu...kikikikkk, Iib...Iib...





Sampe Ibrahim bobo, saya masih di rumah Apo (panggilan nenek dalam bahasa Cina). Aponya Iib adalah seorang wanita yang saya anggap ibu saya juga. Kalo anak-anak kampus manggilnya Tante. Yang baru kenal aja manggilnya Ibu. Tapi kalo via sms saya manggilnya Bunda. Sekalian aja deh saya mau ngucap: Na sayang Bunda...Makasi ya Bunda uda mau jadi ibu ketiga buat Na selama ini...hiks...(terharu juga niy)

Mau liat poto lucu Iib yang laen? Liat aja....


Ni poto Iib abis dicebo'in ma Apo. Ternyata kalo anak bayi sekalipun uda dimandiin dan harus berinteraksi dengan air misal abis pipis ato BAB, kudu dilepas semua bajunya karena bisa basah semua. Lucu bener ngeliat anak kecil maen aer...Lutu pisan, ih...(be te we, poto Iib dimandiin gada karena kutau hasilnya pasti ga terang bener)




Nah, ini poto Iib klo Aponya bilang 'gimane kalo adzan? Allahu akbar..Allahu akbar...' Spontan Iib langsung megang kepalanya dengan dua tangan, kaya gitu tuh di poto. Subhanallah, sekecil itu, 1 tahun 2 bulan, Iib uda punya acara favorit di TV: adzan magrib. Saya lihat sendiri Iib sangat konsentrasi dengan TV saat Apo memutar channel TV yang menayangkan adzan. Tapi, Iib hanya suka tayangan adzan yang banyak orangnya, yang gambar bergerak, gak suka yang cuma gambar masjid doang. Apalagi kalo ada muadzin yang adzan dengan mengangkat tangannya. Taraaaaaa KTV dapat Iib Award untuk tontonan adzan paling disukai. Heee...




Nih poto Iib habis dipakein baju ma Apo, trus ketemu bola jadi maen-maen...sambil ketawa-tiwi dengan Amma Nana...




Iib...Iib...tau aja kalo dipoto...
Ga tau juga niy koq bayi dan anak zaman sekarang fotogenik sih? Tau aja kalo dipoto...Termasuk the next pic below...




Ngeliat poto yang ini kaya ngeliat pamannya Iib: HRDP, SE. Ya ga sih....




Waktu mau ambil gambar yang ini, Apo bilang: 'Koq ngambil gambarnye pas Iib gigit kaki. Kan jelek...' Tapi saya tetap jeprat jepret...




Kalo ngeliat gambar ini jadi ingat Azka di blog Bunda Azka. Bayi emang ada umur-umurnya gigit kakinya sendiri ya...Syukur gigi sendiri, coba kaki Apo atau kaki kucing...Hiii, langsung diare kali...kikikikkkk



Demikian hasil reportase saya dari BTN Telok Mulus M15 kediaman Ibrahim dan keluarga: Datok, Apo, Ummi, Abi dan Paman. Semoga saya bisa segera memposting buah hati saya sendiri...artinya saya segera menikah dan segera pula dikarunai momongan...Aamiin.
^_^


Selengkapnya...

Persahabatan Itu Manis


Saya masih ingat, dia datang akhir 2007 dengan nama 'semrawut'. Komentar-komentarnya di chatbox blog saya sangat asal tapi saya jadi ikut-ikutan kasi komentar di blognya yang sekarang gada lagi (yang baru saya juga yang buat, tapi entahlah nasibnya kini).

Sejak saat itu kami berteman dan copy darat pada bulan Februari 2008 di tanah ibukota, Jakarta, tempat ia berdomisili. Dia juga menemani saya ke rumah Eyang Harini Bambang Widodo, seorang pemerhati dan pengelola di bidang persampahan. Habis magrib kami makan malam bertiga dengan seorang teman lain, blogger juga dalam acara copy darat.

Saya juga tidak menyangka, pertemanan kami berlanjut hingga kini. Telah setahun lebih dan itupun berlangsung via sms atau telpon diwaktu yang tidak teratur. Paketnya yang berisi buku Fulfilling Life-nya Parlindungan Marpaung, CD Gaza Under Attack, Pin 'I Love Al Quran', kalender meja Toyota notabene bengkel tempat ia bekerja dan secarik surat narsis, gayanya banget. Dek Wibi, biasa ia saya sapa...

Dia menyebut dirinya Raden Mas Adi Wibowo dalam suratnya....hoekkk...langsung ku sms dia setelah menerima paket siang tadi, menyatakan aku mual membacanya. Perhatian! Itu bukan nama aslinya. Hanya dua nama terakhir, sodara-sodara! Dek Wibi dan saya memang senang ngocol bareng, narsis satu sama lain dan alhamdulillah kami bisa menjaganya agar tetap dalam koridor syar'i.

Latar belakangnya yang anak murid pengajian Habib Rizieq sedikit banyak menyumbang hal tersebut. Selain narsis satu sama lain, kami juga saling mengingatkan tentang banyak hal terutama agama. Berbagi ilmu, begitulah.

Tapi satu PR untuk Dek Wibi: 'Hey, Dek, partai pilihanmu 8 juga dunk! Heeee.....'


Selengkapnya...

'Berjalanlah, walau setapak' (Analisis Kemasan Iklan Kandidat Wakil Rakyat)


Ambillah hikmah dimanapun anda menemukannya, sekalipun dari lisan seorang anak.

Sejak medio Januari hingga kini, iklan para kandidat wakil rakyat memenuhi Log Iklan radio saya. Income perusahaan pun menggelembung. Bersyukur pada Pak Fathoni yang sangat sigap melihat momen sehingga belasan caleg bahkan partai berebutan untuk minta dipromosikan di Mujahidin 105.8 FM. Log Iklan overload. Bahkan ada yang bersedia masuk dalam waiting list setelah masa iklan klien yang lain telah habis di waktu yang sangat ditunggu-tunggu, baik oleh Pak Fathoni dan lebih utama oleh calon klien lainnya.


Ada pula iklan partai saya: 8, PKS.
Kreatif. Dimulai dari vokal Ipang yang sangat khas itu. Lantas disambung dengan suara grup anak muda yang bernyanyi:
Partai Keren Sekali,
Pasti Koruptor Sebel,
Partai Kalem dan Santun,
Peduli Kita Setiap saat,
PKS itu
Partai Kita Semua.
Kurang lebih itulah bunyi iklan yang diputar hingga 5 April nanti.
Iklan yang menyentuh pemilih pemula karena kesannya iklan itu memang keren.

Tapi bukan itu yang saya maksud dalam tulisan ini.
Sekalipun saya sudah punya pilihan untuk partai, kalau bicara objektif mana iklan yang lebih kreatif, beda dunk ya.

Saya masih berada di kursi admin saat Pak Zulfadli, Ketua DPRD Provinsi Kalbar itu memperpanjang masa kampanyenya via Radio Mujahidin. Jauh berbeda dengan format sebelumnya yang hanya mengetengahkan dialog tentang siapa pilihan terbaik dan bagaimana memilih dalam Pemilu 2009 yang kita tahu berubah dengan 'contreng'nya itu.

Iklan Pak Zul atau lebih akrab disapa Bang Zul yang paling anyar adalah kisah hikmah yang berujung motivasi. Sang kreator iklan (setahu saya rekamannya dilakukan di Radio Volare) pintar sekali mengemas iklan tersebut hingga iklan Bang Zul tersebut menjadi satu-satunya iklan yang dikemas dengan cara demikian. Judulnya Kisah Sukses.
Dimulai dengan kata-kata: 'Kisah sukses hari ini....Kejujuran....bla bla bla'
Ada 5 versi iklan Bang Zul yang semuanya sangat menarik untuk didengar. Mendengarnya kita bukan hanya memasuki sebuah kampanye sang calon legislatif melainkan kita juga mendapat pencerahan yang luar biasa.

Ah, luar biasa? Tidak juga. Sudah banyak yang melakukannya. Iklan sedemikian sudah sangat biasa dan out of date. Gak zaman. Harusnya ada yang lebih kreatif dari itu.


Haaa, mungkin anda berkomentar demikian. Saya akui ada benarnya. Tapi anda perlu cermati, macam mana kemasan iklan yang beredar selama ini. Mengandalkan dialogis, atau semacam testimoni, atau juga versi RRI yang mengandalkan suara Bung Charlie yang amat bass itu. Semua STD. Itu opini saya. Bagaimana dengan iklan yang diproduksi Radio Mujahidin? Yah, itulah objektivitas, STD. Untuk menemukan kreativitas dan inovasi memang bukan hal sederhana apalagi mengimplementasikannya.

Kalau bicara iklan kampanye tingkat nasional, mari lihat iklan Partai Gerindra yang langsung mendapat tempat di hati banyak rakyat Indonesia, tak pelak artis dan kalangan selebritas. Dapat info dari seorang teman bahwa biaya pemasangan iklan Gerindra di seluruh televisi nasional dari pertama kali putar hingga akhir masa kampanye (mungkin hingga Pemilihan Presiden) mencapai angka 25 miliar rupiah. Wow! Darimana Jendral Prabowo mendapatkan uang sebanyak itu? Siapa di belakang siapa? (Maaf ya, Pak). Mengapa iklan itu langsung merebut hati dan perhatian banyak pemirsa? Karena dikemas dengan sesuatu yang berbeda: merakyat. Dan itu dikemas dengan pengambilan gambar yang sangat nature, alami.

Oke, bicara lagi tentang iklan Bang Zul. Ada yang ingin saya ceritakan tentang kisah-kisah sukses dalam iklan beliau. Satu yang sangat saya suka, tentang 'Berjalanlah, walau setapak...' Secara singkat saya ingin menyampaikan esensi dari kisah sukses itu.

Berjalanlah walau setapak karena itu berarti anda terus melangkah, tidak berhenti.
Terus berjalan walau setapak menandakan anda telah maju walau hanya satu langkah.
Sekalipun nampaknya tak ada perubahan namun yakinlah anda telah melakukan perubahan walau kecil.


Subhanallah, makasi Tim Kreatif Bang Zul....
Pesan ini sebenarnya telah lama saya ketahui, tapi entahlah saya seperti tersihir dan menyatakan bahwa saya sangat bersepakat dengan hikmah dari kisah sukses yang satu itu...karena apapun langkah kebaikan yang kita lakukan pastinya tak pernah sia-sia.



Selengkapnya...

The 1st Day To Be PD


Just wanna note this date in my blog.



Selengkapnya...